Skip to content

Menguatkan Peran Perempuan Menghadapi Ancaman Gelombang Ketiga Covid-19 Dan Malnutrisi Pada Anak

menguatkan peran perempuan

Presiden Jokowi pada acara Rapat Koordinasi Nasional dan Anugerah Layanan Investasi 2021 secara daring, Rabu (24/11/2021) mengingatkan ancaman datangnya  Gelombang ketiga Covid-19 di Indonesia. Fakta sekarang ini mengatakan bahwa di benua Eropa dan Amerika, gelombang ketiga bahkan keempat sedang terjadi. Beberapa negara seperti Perancis dan Polandia memberlakukan lockdown. Gelombang ketiga covid-19 diwarnai dengan munculnya beberapa varian virus, termasuk varian Omicron yang berasal dari Afrika Selatan.

Bahkan di kawasan Asia, negara China juga memberlakukan lockdown akibat melonjaknya varian delta. Sebagai catatan bahwa di China vaksinasi sudah mencapai 1 milyar penduduk. Begitupun di negara-negara kawasan Eropa dan Amerika.

Informasi dari Our World in Data ( https://ourworldindata.org/coronavirus-data  ) menyebutkan jumlah kasus covid-19 untuk tingkat global sudah mencapai 260 juta kasus dengan jumlah kematian mencapai 5,17 juta. Khusus untuk negara Indonesia, jumlah kasus mencapai 4,25 juta dengan kematian berjumlah 144 ribu jiwa.

varian omicron 19

Ancaman Malnutrisi Pada Anak

Data yang berhubungan dengan pandemi tidak sekedar jumlah penduduk yang positif covid-19, jumlah yang sembuh dan jumlah yang meninggal. Ada data lain yang tidak dimuat dari penyedia info global mengenai covid-19, seperti dampak terhadap ekonomi dan lebih khusus ancaman terhadap kehilangan generasi akibat malnutrisi atau gizi buruk..

Bisa kita bayangkan secara sederhana dari fakta ekonomi yang terpuruk, bangkrutnya banyak perusahaan dan unit usaha skala kecil dan menengah, dan PHK dimana-mana. Pendapatan yang jauh berkurang bahkan tidak ada pada unit keluarga mengakibatkan kemampuan daya beli jauh menurun.  Suplai nutrisi untuk anak-anak, generasi penerus kita, jauh menurun.

Laporan lengkap yang dipublikasikan oleh Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO), Program Pangan Dunia (WFP) dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menjelaskan mengenai kerawanan pangan dan gizi sejak awal munculnya covid-19.  Data mengungkapkan tingkat kelaparan dan malnutrisi meningkat 8.4 persen tahun 2019 menjadi 10 persen di tahun 2020. Data ini menggambarkan ada pertambahan 118 juta orang yang mengalami malnutrisi dari total 768 juta orang.

Jumlah anak stunting atau kerdil dan anak yang menderita wasting meningkat 15 persen atau 7 juta setelah pandemi. Padahal sebelum pendemi dalam kurun  tahun 2000 – 2019, anak stunting menurun dari 199,5 juta menjadi 144 juta dan anak wasting (mengalami penurunan berat badan dari berat normal anak-anak akibat kekurangan gizi) turun dari 54 juta menjadi 47 juta.

Bahkan  situs Medicalxpress (https://medicalxpress.com/) , yang mengkhususkan pada bidang kedokteran dan kesehatan, memperkirakan bahwa dampak pandemi covid-19 terhadap kemunduran gizi pada anak akan mengakibatkan kematian sebanyak 168 ribu jiwa sebelum pemulihan global terjadi.

Perempuan Menjadi Penyangga Ekonomi Keluarga

Di tengah situasi pandemi hampir dua tahun ini, penulis melihat fakta seperti di lingkaran komunitas Ibu-Ibu Doyan Nulis (IIDN) yang beranggotakan 22 ribu orang bagaimana perempuan tampil menjadi pilar ekonomi keluarga setelah pekerjaan dan bisnis suaminya runtuh, sebagian di PHK. Penulis juga melihat kejadian yang sama di komunitas perempuan lain.

Fakta lain yang bisa dilihat adalah munculnya banyak kegiatan sosial yang dilakukan oleh individu, komunitas dan organisasi kemasyaratan untuk membagikan kebutuhan pokok bagi anggota masyarakat yang membutuhkan. Pemerintahpun mengguliran berbagai jenis program bantuan, baik sembako, bantuan pulsa, keringanan kredit, dan lainnya. Kondisi ini sepertinya akan terus berjalan karena ujung cerita dari pandemi belumlah berakhir.

Fakta lain yang terungkat dari perjuangan bertahan hidup di tengah pandemi dengan kondisi ekonomi yang sulit adalah tampilnya perempuan yang menopang ekonomi keluarga, baik yang masih memiliki suami ataupun single parent (orang tua tunggal).

Data dari Kementrian Perindustrian dan riset dari Danareksa menyebutkan pengusaha dari sektor Industri Kecil dan Menengah (IKM) 47,64 persen dari 4,4 juta orang adalah perempuan. Jumlah ini meningkat dari tahun ke tahun. Dari populasi usaha mikro kecil dan menengah (UMKM), sebanyak 64,5 persen adalah perempuan.

Lain halnya dengan data yang dikeluarkan oleh kementrian keuangan. Ternyata perempuan mendominasi dalam bidang investasi. Penerbitan Obligasi Ritel Indonesia (ORI) 017, ORI 018 dan Sukuk Ritel (SR) 018, jumlah investor perempuan naik dari 55,8 persen, 57,82 persen dan 58,25 persen.

Fakta yang bisa dilihat secara langsung dari lingkungan pergaulan adalah begitu aktifnya perempuan melakukan jual beli online baik melalui market place atau memanfaatkan whattapp. Status WA yang berseliweran banyak diwarnai penawaran barang.

Agenda Bersama Menguatkan Peran Perempuan

Dari fakta-fakta di atas, apa yang bisa dijadikan pelajaran? Tidak lain dan tidak bukan adalah perempuan telah menjadi penopang ekonomi, bukan hanya pada skala keluarga namun juga nasional. Pada saat yang sama, perempuan memiliki peran pengatur ekonomi keluarga termasuk mengatur asupan gizi untuk anak-anaknya.

Fakta peran perempuan ini seperti bertolak belakang dengan kemampuan akses perempuan di era industri 4.0 ini yang ternyata tertinggal dibandingkan laki-laki. Data BPS tahun 2019 menyebutkan akses perempuan atas internet sebesar 46,87 persen dibandingkan laki-laki.

Dalam tataran global yang kemudian diterjemahkan dalam kebijakan tingkat nasional, agenda penguatan peran perempuan termasuk juga mengatasi masalah malnutrisi ditetapkan PBB dalam Susainable Development Goal’s (SDG’s). SDG’s ini merupakan kelanjutan dari Milennial Development Goals (MDG’s). SDG’s memuat 17 tujuan dengan 169 target yang harus dicapai pada tahun 2030.

Tujuh belas tujuan tersebut meliputi tanpa kemiskinan, tanpa kelaparan, kehidupan yang sehat dan sejahtera, pendidikan berkualitas, kesetaraan gender, energi, pekerjaan layak, infrastruktur, berkurangnya kesenjangan, kota dan komunitas berkelanjutan, konsumsi dan produksi, penanganan perubahan iklim, ekosistem laut, ekosistem daratan, perdamaian-keadilan dan kemitraan.

Dari 17 tujuan dan 169 target tersebut ada 16 tujuan dan 91 target yang berhubungan dengan kesetaraan gender, hak asasi perempuan dan anak perempuan. SDG’s itu bisa memandu pemerintah pusat dan daerah untuk mencapai targetnya juga menjadi “alat tagih” bagi perempuan sehingga terpenuhi hak-haknya.

Lantas bagaimana menguatkan peran perempuan dalam kaitan dengan ancaman covid-19 sekarang ini?. Pemerintah pusat dan pemerintah daerah pertama perlu melakukan pemetaan kondisi lapangan terhadap perempuan.

Pelatihan menulis dan internet marketing untuk perempuan
Berbagai macam jenis pelatihan yang bisa menjadikan perempuan melek teknologi digital dan bisnis di dunia internet.

Banyak sekali jenis program yang bisa dilakukan mulai dari memberikan akses internet lebih baik, pendidikan literasi, pelatihan bisnis online, memberikan akses pasar pada industri rumah tangga, memberikan kemudahan ijin usaha, pelatihan usaha kecil dan pendampingan, termasuk juga menjadi penghubung dari stakeholder untuk menguatkan industri rumah tangga.

Dari banyaknya permasalahan yang dihadapi perempuan, yang terbesar adalah masalah pendidikan yaitu mengubah mindset perempuan dari yang sekedar menerima nasib menjadi perempuan yang berani berkarya bahkan pada lingkungan global. Bukahkah internet sangat memungkinan ini. Ketika kita sudah bisa mengakses internet, maka semua titik di Bumi memiliki potensi dan peluang yang sama. Apakah itu di New York, London, Tokyo, Beijing dan Solo.

Info tentang penulis Widyanti Yuliandari, pada tautan di bawah ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!