Menumbuhkan Kemampuan Riset Untuk Pelajar, Dimulai Dari Mana?

Pendidikan lingkungan di sekolah

Sepuluh tahun lalu, dalam kurun 2 tahun, saya sering memberi ceramah mengenai lingkungan kepada pelajar SMP, MTs, SMA dan SMK. Ada rasa senang bisa berbagi ilmu pengetahuan kepada pelajar. Tema mengenai perubahan iklim (climate change) sering saya berikan.

Biasanya saya dan tim memberikan slide dengan penjelasan sederhana dan ditambah dengan video mengenai tema yang diberikan. Penjelasan sederhana menjadi cara terbaik disesuaikan dengan tingkat pemahaman pelajar. Adapun penayangan video menjadi metode yang menimbulkan antusias lebih.

Metode penyampaian materi yang santai, banyak gambar atau ilustrasi, dibumbuhi dengan cerita dan apalagi ada lelucon serta tanya jawab adalah beberapa cara yang ampuh untuk berkomunikasi dengan pelajar.

Terlepas dari jenis metode yang dilakukan, ada pertanyaan ,”Apakah materi yang disampaikan benar-benar dipahami oleh pelajar mengingat bahwa tema perubahan iklim adalah tema yang berat?”. 

Widyanti Yuliandari ceramah lingkungan

Pentingnya Ilmu-Ilmu Dasar

“Bumi makin panas akibat peningkatan gas rumah kaca di atmosfer”. “Karena makin panas, dampaknya es di daerah kutub mencair”. “Es yang mencair ini mengakibatkan volume air di lautan bertambah”. “Akibatnya permukaan laut naik”. “Akibatnya pemukiman di pesisir pantai akan tergenang air bahkan tenggelam”. “Dampak lain dari peningkatan gas rumah kaca adalah iklim berubah”. Dan seterusnya.

Perhatikan bahwa rentetan kalimat di atas sebagai bahan obrolan santai akan bisa diterima oleh logika. Namun, dibalik kalimat-kalimat di atas tersimpan dasar ilmu pengetahuan yang harus dipahami, seperti “Karena makin panas, dampaknya es di daerah kutub mencair”.  Perlu pengetahuan mengenai temperatur, temperatur es membeku dan mencair, gas rumah kaca seperti CO2 kok bisa menaikkan panas, pergerakan atmosfer sebagai penghantar panas, dan lain-lain. Pada bagian iniliah pelajaran ilmu dasar seperti matematika, fisika dan kimia yang diajarkan di SD, SMP/sederajat dan SMA/sederajat menjadi sangat penting.

Tanpa ada pondasi ilmu dasar yang cukup maka fenomena alam seperti perubahan iklim hanya sebatas obrolan saja. Siswa akan susah mem-visualisasikan kenaikan suhu, es mencair, permukaan lain naik, dan seterusnya.

Kelebihan adanya pondasi ilmu-ilmu dasar bagi siswa ketika saya perlu menjelaskan perubahan iklim adalah penjelasan yang lebih rumit dan teknis akan bisa dipahami seperti penjelasan gas rumah kaca  karbon dioksida (CO2), nitrogen dioksida (N2O), metana (CH4), dan freon (SF6, HFC dan PFC), sumber gas rumah kaca dan hubungan gas rumah kaca.

Ceramah lingkungan di sekolah
Suasana siswa sekolah menengah pertama ketika saya dan team memberikan materi tentang perubahan iklim

Dimulai Dari Pengamatan, Menuliskan Deskripsi Objek

Setelah memiliki pondasi ilmu-ilmu dasar di atas, bagaimana menumbuhkan kemampuan meneliti atau riset pada siswa? Buang jauh-jauh bahwa kemampuan riset siswa akan canggih seperti mahasiswa apalagi paskasarjana, meski ada beberapa kasus sejumlah siswa bisa melakukan penelitian yang setara dengan mahasiswa strata satu. Namun ada persamaan dari semua jenis riset yaitu kemampuan mengamati.

Tahap pertama adalah melatih siswa untuk mengamati. Mengamati sedetail mungkin dari lingkungan sekitar, misalnya tempat pembuangan sampah, pabrik tahu, sungai, pasar, pantai dan sebagainya. Tentunya, lokasi pengamatan disesuaikan dengan tema penelitian. Akan lebih bagus, disesuaikan dengan minat dari siswa. Sebagai contoh adalah pabrik tahu.

Tahap kedua adalah menuliskan hasil pengamatan sedetail mungkin. Hasil tulisan bisa dipresentasikan lalu diperbaiki lagi. Tugas pembimbing disini memantik rasa ingin tahu pada detail hasil pengamatan. Sebagai contoh, limbah pabrik tahu. Untuk bagian ini bisa dibaca tulisan saya yang lain: Pengalaman memberikan pelatihan menulis dan riset untuk pelajar.

Tahap ketiga adalah memunculkan banyak pertanyaan dari detail pengamatan seperti proses pembuatan tahu, limbah pabrik tahu, pengaruh limbah tahu terhadap lingkungan dan lainnya.

Tahap keempat adalah menjawab pertanyaan yang muncul.

Dari keempat tahap itu, prioritas untuk siswa sekolah dasar dan menengah adalah tahap satu dan dua. Tantangan bagi guru dan pembimbing adalah menumbuhkan kegembiraan dan memantik rasa ingin tahu terus-menerus dari siswa.

Dengan kemampuan mengamati dan menulis yang baik, maka tahap lanjut dari aktivitas riset akan mudah dilakukan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *