Strategi Pemantauan Sungai Berbasis Komunitas

pemantauan air berbasis komunitas

Sungai adalah milik bersama, dan negara yang mengelolanya. Sungai menjadi indikator keberadaan peradaban manusia. Jadi tidaklah heran, kota – kota besar dan ibukota negara dekat dan berada di daerah sungai.

Sayangnya, perkembangan jaman menjadikan kondisi sungai berubah terutama kondisi kualitas air sungai. Kualitas air sungai tidak memenuhi syarat layak, bukan hanya untuk diminum bahkan untuk perluan harian seperti mandi dan cuci. Contohnya adalah sungai Citarum

Sekilas Sungai Citarum

Membicarakan Citarum, sama prihatinnya dengan membicarakan banyak sungai lain di Indonesia terutama di kota-kota besar, juga sungai-sungai di berbagai tempat di dunia. Akibat penggunaan sumber daya air secara global telah terjadi tekanan terhadap sungai. Citarum juga mengalaminya. Merujuk Atlas Status Mutu Air Indonesia Tahun 2015, 7 titik pantau di Sungai Citarum telah menunjukkan status cemar berat berdasar Metode Storet.

Kondisi sungai Citarum. Sumber foto Media Indonesia

Sungai Citarum merupakan sungai terbesar dan terpanjang di Provinsi Jawa Barat yang bermanfaat sebagai sumber air baku baik untuk Kabupaten/Kota yang dilewatinya serta suplay air baku untuk DKI Jakarta. Berbagai upaya telah dilakukan untuk menjaga dan merawat Citarum. Misalnya dengan inventarisasi dan evaluasi sumber-sumber air sejak tahun 1980-an.

Lalu Program Kali Bersih (Prokasih) sejak tahun 1990-an sebagai upaya untuk menurunkan beban pencemaran yang masuk ke Sungai Citarum. Dari sisi regulasi juga telah dilakukan penataan peraturan-perundangan beserta institusi atau lembaga pelaksana.

Pemantauan Kualitas Air dalam Manajemen Sungai

Pemantauan kualitas air perlu dilakukan untuk mengetahui sejauh mana tingkat pencemaran sungai serta sebagai bahan untuk perencanaan pengelolaan sungai. Pemantauan adalah salah perangkat yang penting dalam manajemen sungai. Di Indonesia, pemantauan air sungai lebih banyak dilakukan dengan metode fisik-kimia, sebagaimana yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah No. 82 tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air. Baca juga : Menyusun puzzle kali Sampean memahami dan menjaga air untuk Indonesia lebih sehat.

Penggunaan metode biologis, hanya terbatas pada penggunaan Escherichia coli (Mayaningtyas, 2010).­ Data-data fisik, kimia dan bakteriologi air biasa dijadikan dasar pemantauan karena dapat menyediakan spektrum lengkap informasi untuk pengelolaan air yang tepat (Metcalfe, 1989). Namun, data-data tersebut tidak dapat mencerminkan integrasi berbagai faktor lingkungan dan kelangsungan ekosistem sungai.

Pemantauan kualitas air oleh komponen stakeholder lainnya di luar pemerintah dan oleh masyarakat. Namun upaya ini belum terlalu tampak dan terkesan belum terkoordinasi dengan baik. Jika merujuk pada konsep pengelolaan sumberdaya air secara terpadu, mestinya urusan pengelolaan sungai, bukan hanya berada di tangan pemerintah, akan tetapi stakeholders yang berasal dari berbagai komponen.

Kondisi kali Sampean yang didalamnya ada sampah rumah tangga. Sumber foto : enviro-pedia.com

Bioassessment

Bioassessment dengan makroinvertebrata, adalah hal yang umum dilakukan di negara-negara maju (Balderas, 2015). Metode ini memungkinkan untuk mendapatkan gambaran ekologi mengenai status aliran atau sungai saat ini (Li et al., 2010). Selain itu, bioassessment juga lebih ekonomis, aplikatif dan meyakinkan (Akolkar, 2008).

Makroinvertebrata adalah bioindikator yang sering digunakan dalam bioassessment, karena keberadaannya yang cukup melimpah dan mudah ditemui. Makroinvertebrata juga relatif menetap dengan umur relatif panjang. Selain itu, prosedur sampling makroinvertebrata sudah berkembang dengan baik (Hellawel, 1986; Metcalfe, 1989).

Istilah makroinvertebrata, tidak merujuk kepada taksonomi, akan tetapi ini digunakan untuk penyebutan suatu kelompok biota air tidak bertulang belakang yang ukurannya cukup besar untuk dapat dilihat dengan mata tanpa bantuan mikroskop (Wallace dan Webster, 1996; Alba-Tercedor, 2006).

Sejumlah makroinvertebrata yang digunakan sebagai indikator, misalnya dari famili: larva Tricoptera, Annelida, Ephemeroptera, Hirudinae, Mollusca, Crustacea, dan taksa lainnya (Metcalfe, 1989).

Kick Sampling, Salah Satu Tahapan Bioassessment.
Sumber foto : enviro-pedia.com

Keunggulan menggunakan makroinvertebrata sebagai bioindikator kualitas air menurut Barbour (1999) adalah:

  1. Makroinvertebrata memiliki pola migrasi yang terbatas, karenanya sangat sesuai untuk menilai kondisi spesifik lokasi (studi hulu hilir).
  2. Berdasarkan taksanya, makroinvertebrata dapat merespon dengan baik tekanan dari lingkungan hidupnya.
  3. Makroinvertebrata mudah diidentifikasi pada tingkat famili.
  4. Kumpulan makroinvertebrata terdiri atas berbagai taksa yang mencerminkan tingkat trofik dan toleransi polusi yang luas, sehingga memberikan informasi kumulatif yang kuat.
  5. Sampling relatif mudah, tidak membutuhkan banyak tenaga, dan relatif tidak merugikan biota lain.
  6. Makroinvertebrata terdapat di sebagian besar orde sungai.

Pemilihan bioassessment sebagai metode dalam melakukan pemantauan kualitas sungai adalah karena karakteristiknya yang sederhana  dan dapat dilakukan bahkan oleh seorang siswa setingkat SMP dan tidak harus dilakukan oleh ahli biologi yang sudah sangat berpengalaman.

Baca juga: Menakar potens ari limbah terhadap timbulnya efek rumah kaca.

Pemantauan Kualitas Sungai Berbasis Komunitas

Community based bioassessment memiliki nilai tambah dibandingkan pemantauan yang biasa dilakukan oleh pemerintah sesuai kewenangannya. Salah satu keunggulan melakukan pendekatan pemantauan kualitas sungai berbasis komunitas adalah meningkatnya rasa memiliki masyarakat terhadap sungai, dengan demikian, masyarakat memiliki kesadaran untuk turut menjaga sungai.

Dalam upaya ini perlu dipetakan, Siapa Melakukan Apa? Tentunya, diperlukan peran pemerintah melalui instansi atau lembaga pemerintah yang memiliki kewenangan dalam pengelolaan sungai untuk menginisiasi dan memfasilitasi program ini. Kalangan pendidikan mulai dari SD, SMP, SMA, Pondok Pesantren dapat dilibatkan untuk terjun langsung melakukan bioassessment.

Dimana peran NGO? Non Govermental Organization dapat menjadi fasilitator bagi berjalannya bioassessment di lapangan. Akademisi, dalam hal ini perguruan tinggi dapat berperan serta dalam mengembangkan metode assessment yang sederhana namun hasilnya cukup dapat dipertanggungjawabkan.

Kali Sampean Bondowoso. Foto : enviro-pedia.com

Merangkul Blogger serta Netizen

Di era digital, banyak informasi yang dapat disampaikan kepada masyarakat melalui web. Dalam hal ini, penyampaian informasi bukan menjadi satu-satunya alasan penggunaan tools berupa web. Nantinya keberadaan web ini dapat berisi:

  1. Panduan teknis untuk melakukan bioassessment
  2. Kunci identifikasi makroinvertebrata yang digunakan sebagai bioindikator
  3. Tool untuk menghitung indeks kualitas air, sehingga memudahkan partisipan untuk mengolah data yang dihasilkannya
  4. Hasil pemantauan pada berbagai lokasi yang dapat di-upload oleh semua partisipan setelah melalui proses verifikasi

Blogger dan netizen saat ini tak dapat dipandang sebelah mata. Jika para digital influencer ini saat ini telah cukup diperhitungkan dalam melakukan campaign-campaign komersil berbagai produk dan jasa, maka mengapa tidak melibatkan mereka dalam Program Pemantauan Kualitas Sungai Berbasis Komunitas?

Digital influencer dapat mengambil peran dalam menularkan pengaruh kepada pembaca atau followernya tentang kondisi terkini sungai Citarum dan bagaimana masyarakat dapat menjadi bagian dari solusinya. Keberadaan web yang telah dijelaskan di atas dapat menjadi sumber informasi bagi para influencer untuk dapat disampaikan kepada follower mereka.

Strategi yang Bisa Dilakukan

Suatu program yang melibatkan banyak komponen, tentu memiliki tantangan tersendiri untuk dapat berjalan dengan sinergis. Nantinya, akan banyak hal yang harus diperhatikan untuk mengupayakan suksesnya program ini, antara lain:

Kejelasan tujuan:

  1. Harus jelas apakah tujuan dilakukan program pemantauan
  2. Kejelasan prosedur untuk berpartisipasi
  3. Harus dibuat dengan jelas, siapa yang bisa berpartisipasi dan apa yang dapat dikerjakan oleh masing-masing partisipan

Pelatihan

Masing-masing partisipan harus mendapatkan pelatihan sesuai dengan peran masing-masing. Siswa yang melakukan bioassessment harus dilatih bagaimana melakukan sampling, bagaimana aspek safety melakukan sampling hingga bagaimana mengolah data. Para fasilitator dan trainer membutuhkan Training on Trainer, sementara blogger dan netizen harus mendapatkan pelatihan dasar-dasar lingkungan, dasar-dasar pengelolaan sungai dan materi terkait lainnya. Hal ini dimaksudkan agar dalam memproduksi konten, para influencer tidak melakukan kesalahan yang membingungkan bahkan membuat resah para pembacanya.

Dukungan Finansial

Tentu saja tak ada yang dapat berjalan tanpa dana. Di sini diperlukan kejelasan, dari mana sumber-sumber pendanaan itu berasal, baik dari dana pemerintah melalui APBN ataupun skema lainnya, CSR Perusahaan, atau lembaga-lembaga donor serta sumber-sumber lainnya.

Dukungan Metode yang Andal

Tentu saja, metode yang digunakan harus selalu dievaluasi. Di sinilah kalangan akademisi/Perguruan Tinggi dapat mengambil peran.

Reward

Mungkin perlu dipertimbangkan mekanisme pemberian reward bagi para partisipan. Bagi kalangan siswa, reward dapat saja dikorelasikan dengan nilai mata pelajaran tertentu berupa penambahan nilai dengan perhitungan tertentu yang ditetapkan secara jelas. Bagi komponen lainnya, reward dapat berupa penghargaan ataupun bentuk-bentuk reward lainnya.

Manajemen Data

Harus jelas jalurnya, untuk apa dan bagaimana data-data yang telah dihasilkan tersebut akan digunakan. Apakah berupa sekadar rekomendai pada pemerintah dan komponen lain, atau dapat juga dirancang mekanisme lain agar data-data tersebut dapat “berbicara”.

Demikian, Program Pemantauan Kualitas Sungai berbasis Komunitas, cukup menarik untuk diaplikasikan sebagai salah satu bagian dari proses manajemen Sungai Citarum. Tidak mudah, karena, sekali lagi, keterlibatan banyak komponen akan meminta upaya lebih dalam mencapai sinergitasnya. Akan tetapi, sekali program ini sukses, dampaknya bukan hanya pada Citarum itu sendiri, tetapi jauh lebih luas utamanya ke arah terbentuknya edukasi lingkungan di Indonesia.

Referensi:

Akolkar, P., Agrawal, S. dan R.C. Trivedi. (2008). Biological Monitoring of Water Quality in India – Needs and Constraits. Proceeding of the Scientific Conference: Rivers in the Hindu Kush-Himalaya, Eds: Moog, O., Hal. 125-129.

Alba-Tercedor, J. (2005). Implication of Taxonomic Modification and Alien Species on Biological Water Quality Assessment as Exemplified by The BBI Method, In Development In Hydrobiology The Diversity Of Aquatic Ecosystem eds.Segers. H. and K. Martens. Springer. Netherland.

Barbour, M.T., J. Gerritsen, B.D. Snyder, dan J.B. Stribling. (1999). Rapid Bioassessment Protocols for Use in Streams and Wadeable Rivers: Periphyton, Benthic Macroinvertebrates and Fish, Second Edition. EPA 841-B-99-002. U.S. Environmental Protection Agency; Office of Water; Washington, D.C

De Pauw, N. & H.A. Hawkes. (1993). Biological Monitoring of River Water Quality, p. 87-111. In: Walley, W.J. & S. Judd (eds). River Water Quality Monitoring And Control. Ashton University. UK.

De Pauw, N. dan Vanhooren, G. (1983). Method for Biological Quality Assessment of Watercourses in Belgium. Hydrobiologia Vol. 153–168.

Li, L., B. Zheng dan L. Liu. (2010). Bioassesment and Bioindikators Used for River Ecosystems: Definitions, Approaches and Trends. Proceeding of International Society for Environmental Information Sciences 2010 Annual Conference (ISEIS) , Beijing, Procedia Environmental Sciences Vol.  2 Hal. 1510–1524.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI, Atlas Status Mutu Air Indonesia, 1995.

Marganingrum, D., Roosmin, D., Pradono, and Sabar, A. (2013). River Pollutant Sources Differentiation Using Polution Index Method (Case Study : Upper Citarum Watershed), Jurnal RISET Geologi dan Pertambangan, Vol.23, hal. 37-48

Mayaningtyas, P. (2010). Pengembangan Biokriteria Untuk Menilai Kualitas Sungai Dengan Menggunakan Larva Chironomidae (Diptera) di Sungai Ciliwung. Disertasi. Institut Teknologi Bandung.Bandung.

Metcalfe, J.L. (1989). Biological Water Quality Assesment of Running Waters Based on Macroincertebrate Communities : History and Present Status in Europe. Environmental Pollution Vol. 60 Hal.101-39.

Meybeck, M. (2003). Global Analysis of River System: From Earth System Controls to Anthropocene Syndromes. Philosophical Transaction B Vol.  358 Hal. 1935–1955.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Post

error: Content is protected !!