Pengaruh Dispersan Kimiawi Dan Biosurfaktan Terhadap Biodegradasi

Prolog

Tulisan ini adalah bagian kedua yang membahas mengenai pengaruh dispersan kimiawi dan biosurfaktan dalam biodegradasi minyak bumi. Dalam tulisan ini kita akan melihat bahwa dispersan kimiawi bisa memberikan pengaruh positif dan negatif dalam proses biodegradasi minyak bumi.

Dispersan kimiawi dipandang mampu mempercepat biodegradasi, karena produk dispersant saat ini biodegradable dan bersifat menstimulasi pertumbuhan bakteri (Lessard & Demarco, 2000). Aplikasi dispersant jenis Slickbar OSD 9000 terhadap minyak mentah jenis Duri Crude, memberikan  degradasi sebesar 19, 7% sementara tanpa dispersan hanya 5, 2 % (Andriany, 2001).

Sebuah studi yang dilakukan oleh Hamdan and Fulmer (2011) menunjukkan pengaruh dispersan kimiawi jenis COREXIT terhadap bakteri pendegradasi hidrokarbon maupun non HC degrader seperti dalam gambar di bawah ini :

Pengaruh Penambahan Corexit Terhadap Beberapa Bakteri di Lautan Sumber: Hamdan and Fulmer, 2011

Sedangkan untuk mengetahui pengaruh COREXIT khusus terhadap bakteri pendegradasi minyak, dilakukan pengujian COREXIT terhadap bakteri pendegradasi hidrokarbon. Ditambahkan pula hexadecane sebagai sumber karbon dengan perbandingan  1: 10, 1: 25 dan 1:50 sebagaimana yang disarankan oleh US-EPA pada gambar di bawah ini

Pengaruh COREXIT Terhadap Bakteri Pendegradasi Minyak Bumi
Sumber: Hamdan and Fulmer, 2011

Pada studi yang berbeda didapatkan kondisi yang berkebalikan dengan di atas. Dalam studi ini diuji perbandingan beberapa perlakuan yakni: tanpa treatment (hanya diberikan aerasi sederhana), biostimulasi yakni dengan penambahan nutrient, bioaugmentasi dengan penambahan bakteri yang umum dikenal sebagai pendegradasi hidrokarbon, dan dengan penambahan dispersan disertai nutrient (Crisa et al., 2016).

Secara umum terlihat pada semua mikrokosmos yang diberikan treatment, lebih terdegradasi daripada yang tanpa perlakuan . Namun pada hari ke 14, terlihat mikrokosmos BA dan BS mencapai removal THP lebih tinggi daripada yang tambahkan dispersant. Sedangkan kepadatan sel pada hari ke 14 yang tertinggi adalah pada proses biostimulasi. Sementara mikrokosmos dengan dispersant memiliki densitas sel mikroba lebih rendah. Lihat gambar di bawah ini.

Konsentrasi TPH pada Setiap Mikrokosmos
(Abu muda= hari ke 5, Gelap=Hari ke 14)
Sumber: Crisa et al., 2016
Konsentrasi Sel yang Diamati Pada Mikrokosmos pada hari 1,5 dan 14 (bulat = WA, bulat gelap = NT, kotak= BS, kotak gelap=BA)
Sumber: Crisa et al., 2016

Pengaruh biosurfaktan juga diuji dengan cara mengukur CO2 yang diemisikan sebagai indikator adanya proses metabolisme jasad renik dalam mikrokosmos yang diuji. Hasilnya bisa dilihat pada tabel di bawah ini. Surfaktan sintetis atau chemical dispersan juga digunakan sebagai pembanding. Baca juga : Biosurfaktan dalam bioremediasi sebagai solusi untuk tanah yang tercemar minyak bumi

Tabel Pengaruh Biosurfaktan dalam Biodegradasi
Sumber : (Lima et al., 2011)

SurfaktanCO2 yang diemisikan
(┬Ámol g-1)
Reduksi Konsentrasi Surfaktan
(%)
Bacillus sp.2, 3168, 3
B. Subtilis2, 1669, 1
Flavobacterium sp.2, 1542, 5
Dietza maris1, 9759, 6
Arthrobacterium Oxydan1, 4973, 4
Surfaktan Sintetis0, 6324, 8
Kontrol0, 18

Dari konsentrasi CO2 yang dihasilkan, dapat dilihat bahwa aktifitas mikroorganisme dalam mikrokomos yang menggunakan biosurfaktan lebih baik daripada yang menggunakan dispersan kimiawi. Ini juga diperkuat dengan hasil pengujian yang menunjukkan bahwa biosurfaktan memberikan persentase reduksi minyak bumi yang lebih besar.

Kontribusi Dispersan kimiawi dan Biosurfaktan dalam Bioremediasi Minyak Mentah (Pi et al., 2017)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *