Bagaimana Memanfaatkan Air Limbah Domestik Perkotaan Sehingga Dapat Mengurangi Tingkat Pencemarannya?

Air limbah domestik memicu pemasanan global

Prolog

Tulisan ini adalah bagian pertama dari 4 seri tulisan mengenai pemanfaatan air limbah domestik perkotaan. Tulisan ini bersumber dari makalah berjudul ” Upaya Memanfaatkan Kembali Limbah Domestik Di Perkotaan Guna mereduksi Tingkat Pencemaran Air Limbah Domestik Sehingga Gas Buang Yang Lepas Ke Udara Dapat Berkurang “ketika penulis ( Widyanti Yuliandari ) mengerjakan tugas kuliah program magister bersama Syadzadhiya Qothrunada Z.N, Lia Kurnia Putri dan Lailil Qurrotul Ain . Tanpa mengurangi isi tulisan, bentuk tulisan disesuaikan dengan media enviro-pedia ini.

Salah satu fenomena alam yang sering terjadi dan banyak dibicarakan oleh masyarakat adalah terjadinya perubahan cuaca yang tidak mengikuti pola pergantian musim.

Di Indonesia sendiri terdapat dua musim, yaitu musim penghujan dan musim kemarau. Kedua musim tersebut dijadikan sebagai acuan untuk menentukan cuaca.

Pada umumnya pada bulan April sampai September di Indonesia akan terjadi musim kemarau dan pada bulan Oktober sampai Maret akan mengalami musim penghujan. Namun pada zaman sekarang acuan tersebut tidak dapat digunakan lagi karena tidak jarang pada bulan April sampai September di Indonesia turun hujan dengan intensitas curah hujan yang tinggi dan sebaliknya pada bulan Oktober sampai Maret matahari justru bersinar dengan teriknya.

Selain perubahan cuaca, yang tidak kalah menarik adalah suhu udara yang semakin panas. Kedua fenomena alam tersebut merupakan akibat dari adanya pemanasan global (global warming).

Pemanasan Global, Masalah Serius Bersama

Pemanasan global merupakan masalah serius yang dihadapi oleh manusia dan mengancam keberlangsungan hidup makhluk hidup yang terdapat di bumi.

Pemanasan global terjadi karena peningkatan gas rumah kaca (GRK) secara terus menerus. Gas-gas tersebut meliputi CO2, metana (CH4), NO2, Ozon (O3), CFC dan uap air (H2O).

Ilustrasi pemanasan global yang memicu fenoman perubahan iklim. Credit : Pixabay

Jika peningkatan gas-gas tersebut terjadi secara terus menerus, maka akan diperkirakan pada zaman yang akan datang suhu bumi semakin meningkat antara 2,3oC sampai 7oC. Salah satu penyebab meningkatnya gas rumah kaca yaitu air limbah domestik, khususnya penggunaan tangki septik.

Mengenal Apa Itu Air Limbah Domestik

Air limbah domestik merupakan air hasil buangan yang berasal dari rumah tangga yang termasuk di dalamnya adalah berasal dari kamar mandi, tempat cuci, wc dan sisa kegiatan dapur.

Air limbah tersebut mengandung senyawa organik dan kimia yang cukup tinggi serta mikroorganisme patogen yang memberikan dampak terhadap kesehatan manusia.

Di Indonesia mayoritas masih menggunakan tangki septik dalam pengelolaan air limbahnya. Penggunaan tangki septik sebagai unit pengolahan air limbah domestik secara anerobik menghasilkan gas-gas yang terdiri dari gas CO2 dan CH4 (Wijaya, 2013).

Air limbah domestik menimbulkan permasalahan lingkungan. Karenanya perlu dicari solusinya. Credit Pixabay

Kandungan gas yang dihasilkan dari tangki septik untuk gas methan (CH4) sebesar 55% – 65% dan karbondioksida (CO2) sebesar 35% – 45%. Sedangkan gas lainnya seperti Nitrogen (N2), Hidrogen (H2), Hidrogen Sulfida (H2S) dan lain-lain masing-masing hanya terkandung antara 0% – 1% saja (Romadona, 2013).

Jika gas-gas yang dihasilkan dari proses tangki septik dibiarkan, maka akan terjadi akumulasi yang memungkinkan lepas ke atmosfer secara terus menerus sehingga gas rumah kaca meningkat.

Oleh karena itu, perlu dilakukan adanya pengelolaan dan pengolahan air limbah domestik.

Baca juga : Perusak sungai adalah kita

Mengolah Air Limbah Domestik Adalah Jalan Terbaik Sebagai Solusi

Saat ini pengolahan air limbah domestik menjadi kebutuhan yang sangat diperlukan. Pengolahan air limbah mampu mereduksi/menetralkan air dari bahan-bahan tersuspensi dan terapung, menguraikan bahan organik biodegradable, meminimalkan bakteri patogen serta emisi gas yang lepas ke udara.

Pada makalah ini pembahasan akan lebih difokuskan pada pemanfaatan kembali air hasil pengolahan limbah domestik dan gas yang dihasilkan dari unit pengolahan sehingga mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK) dan sebagai upaya dalam penyediaan air bersih. Air hasil pengolahan yang dibuang ke lingkungan ataupun dimanfaatkan kembali harus sesuai dengan standar baku mutu yang ditetapkan.

Pertanyaan Yang Harus Dijawab

  1. Bagaimana potensi air limbah domestik terhadap gas rumah kaca (GRK) ?
  2. Bagaimana implementasi pengolahan dan pemanfaatan air limbah domestik di Indonesia dari berbagai aspek ?

Tulisan dilanjutkan ke bagian kedua : Menakar potensi air limbah terhadap timbulnya efek rumah kaca.

Referensi : Wijaya, R.W dan Hermana J.2013. Efektivitas Removal Massa Gas Karbon Dioksida (CO2) yang Dihasilkan Lumpur Tinja dari Tangki Septik dengan Menggunakan Media Briket Arang dan Kapur Tohor. Jurnal Teknik POMITS. 2 (3): 197-201.

2 thoughts on “Bagaimana Memanfaatkan Air Limbah Domestik Perkotaan Sehingga Dapat Mengurangi Tingkat Pencemarannya?

Leave a Reply to Hastira Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *