Bumi yang dibebani sampah dari palung terdalam hingga ruang angkasa bagian 2

ilustrasi sampah antariksa. credit MIT

Pada bulan Juli lalu, stasiun ruang angkasa milik China yang tidak terpakai yaitu Tiangong-2 masuk ke atmosfer dan sebagian jatuh ke Bumi. Tiangong-2 ini menyusul kakaknya, Tiangong-1 yang jatuh di Samudera Pasifik setahun sebelumnya. Waktu itu, sempat heboh bahwa Tiangong-1 bakal jatuh ke Indonesia.

Tiangong-1 dan Tiangong-2 adalah 2 jenis dari bermacam benda yang menjadi sampah yang melayang – layang di orbit Bumi setelah masa tugasnya berakhir. Sebagian dari sampah antariksa ini jatuh ke Bumi dan sebagian lagi masih berada di ‘atas’ sana dalam jumlah mencapai jutaan keping.

Tulisan ini adalah bagian kedua mengenai sampah. Pada bagian pertama, bisa dibaca mengenai keberadaan sampah yang ditemukan di palung terdalam bumi.

Sampah Antariksa

Bumi kita ini dikitari oleh jutaan benda – benda buangan atau sampah yang melayang – layang. Benda buangan terbaru dan berharga mahal adalah mobil sport warna merah dengan manekin astronot yang diluncurkan melalui 2 roket pendorong Falcon Heavy. Tontonan di luar angkasa ini adalah proyek Space X, sebuah perusahaan dengan bisnis di bidang penerbangan luar angkasa. Mobil sport ini menjadi sampah.

Sebelumnya sudah ada lebih dari 500 ribu kepingan sampah berukuran sebesar kelereng, 20 ribuan berukuran sebesar bola kasti, dan ribuan berukuran besar, mulai dari sarung tangan astronot, pecahan roket dan satelit serta stasiun ruang angkasa. Dan sebagiannya jatuh ke Bumi, seperti stasiun ruang angkasa milik China di atas. Total ada sekira 7,600 ton sampah antariksa.

Ilustrasi keberadaan sampah antariksa yang menyelimuti bumi. credit NASA

Jangan dikira bahwa sampah antariksa yang berukuran kecil , kurang dari 1 cm, tidak berbahaya. Puluhan juta serpihan sampah berukuran kecil ini bergerak dengan kecepatan 48 ribu km perjam dan memiliki potensi merusak pesawat ruang angkasa yang beroperasi di orbit bumi rendah.

Selain potensi tabrakan langsung, potensi bahaya lain dari sampah antariksa disebabkan oleh efek tabrakan beruntun yang dikenal dengan sindrom Kessler atau efek Kessler dimana satu bagian sampah menghantam sampah lain dan terjadi rangkaian beruntun tabrakan sampah yang akhirnya mengotori seluruh area orbit.

Belum lagi ancaman yang bisa menimpa satelit dengan beragam macam fungsinya, mulai dari telekomunikasi, riset, pertahanan, pencitraan dan sebagainya. Kerusakan satelit yang berhubungan dengan kepentingan publik secara langsung, seperti telekomunikasi, akan memberikan dampak kerugian yang begitu luas.

Volume sampah antariksa ke depan akan bertambah dikarenakan pertambahan populasi pesawat ruang angkasa yang mengorbit bumi, belum termasuk satelit. Untuk tahun 2017 lalu saja, dari 86 peluncuran dari seluruh dunia, berhasil meletakkan lebih dari 400 pesawat ruang angkasa di orbit Bumi.

Melacak Sampah Antariksa

Seiring semakin banyak negara yang terlibat dalam penjelajahan ruang angkasa seperti negara china dan India, termasuk swasta seperti perusahaan SpaceX di atas dan trend ke depan dimana wisata ruang angkasa sudah menjadi pilihan lain dari luxury tourism, bisa dipastikan bahwa jumlah sampah antariksa akan bertambah. Karenanya upaya serius dilakukan untuk membersihkannya. Upaya serius ini adalah kerja sama internasional, terutama dari negara – negara yang terlibat dalam proyek ruang angkasa, meskipun ada pula pihak swasta yang turut andil.

Pihak swasta yang terlihat, sejauh ini sebatas upaya pemantauan keberadaan sampah antariksa dilakukan oleh ExoAnalytic Solutions di AS dan Space Insights di Inggris dan menjual datanya ke operator satelit. DeimosSky Survey yang berlokasi di Spanyol menggunakan jaringan teleskop untuk melacak semua jenis obyek, baik sampah maupun asteroid kecil, yang mengorbit Bumi.

NASA menggunakan sensor yang disematkan ke Stasiun Ruang Angkasa Internasional (ISS) pada bagian luar modul Columbus. Sensor berbentuk peti berukuran 1 meter persergi  ini bertugas mendeteksi serpihan sampah, atau obyek apapun termasuk yang bukan berasal dari Bumi, yang menghantamnya.

Membersihkan Sampah Antariksa

Mendeteksi keberadaan sampah antariksa akan memberikan informasi bagi satelit untuk menghindari area yang memungkinkan terjadinya tabrakan dengan sampah tersebut. Upaya ‘menghindar’ ini tidak selamanya dilakukan. Cara lain yang dilakukan adalah membersihkan sampah – sampah tersebut.

European Active Debris Removal adalah misi pertama yang dilakukan. Melalui dua satelit miniatur CubeSat akan melakukan simulasi bagaimana cara memungut sampah antariksa tersebut.

Ilustrasi sebuah satelit menangkap sampah antariksa berupa satelit lain yang tidak terpakai. credit ESA

Teknologi yang dipakai pada satelit bernama REMOVEdebris ini adalah sistem navigasi visual, layar untuk melambatkan gerak sampah dan mengubahnya ke orbit sampah sehingga tidak jatuh ke atmosfer bumi dan pemakaian jaring serta harpun untuk menangkap sampah.

Jaring yang terbuat dari membran plastik digunakan untuk menangkap, mengurung dan menarik sampah berukuran kecil. Harpun ditembakan sehingga bisa menusuk sampah dan menariknya.

Misi satelit pembersih sampah ini dikemudian hari akan diikuti dengan misi – misi selanjutnya. Badan Antariksa Eropa ( ESA ) akan meluncurkan satelit e.debris pada akhir tahun 2019 ini. E.debris ini mengemban misi membersihkan obyek tak terkontrol dari orbit yang aman. Satelit ini akan dilengkapi serangkaian sensor sehingga bisa mendekati obyek secara aman, meski cara ini bukanlah upaya yang mudah.

Bisa dibayangkan bagaimana sulitnya membersihkan sampah antariksa. Kondisi lingkungan yang jauh berbeda dengan bumi menjadikan tantangan serius. Mendekati obyek terkontrol seperti stasiun ruang angkasa internasional yang dihuni manusia-pun butuh kehati-hatian dan perhitungan yang cermat. Salah perhitungan bisa mengakibatkan tabrakan dengan sampah, dan obyek menjadi makin tidak terkendali , terguling dan berputar – putar.

Satelit pembersih sampah akan menyesuaikan mekanisme penanganan sampah sesuai dengan kondisi yang terjadi, apakah menggunakan lengan robot, harpun ataupun jaring. Dan semua ini dilakukan dari kejauhan yaitu dari sistem pengontrol di Bumi. Jauh sekali perbedaannya dengan upaya membersihkan sampah yang ada di Bumi, bukan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *